Cangkang sawit pengganti batubara

Batubara sudah lama digunakan sebagai salah satu bahan bakar. Batubara merupakan bahan yang tidak dapat diperbaharui. Artinya, jika bahan ini diproduksi terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, pada akhirnya batubara ini akan habis. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengganti batubara yang sifatnya dapat diperbaharui agar bahan dapat terus tersedia tanpa merusak lingkungan.

Cangkang kelapa sawit hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Cangkang ini pada awalnya merupakan hasil sisa atau limbah dalam pengolahan buah kelapa sawit menjadi minyak. Limbah cangkang kelapa sawit bisa menggantikan batubara sebagai bahan bakar secara sustain mengingat ketersediaannya yang melimpah dan harga yang lebih murah dibandingkan dengan batubara.

Cangkang Sawit Pengganti Batubara

Cangkang sawit yang semula hanya dibuang begitu saja, kini semakin banyak orang yang tertarik untuk memanfaatkannya. Siapa sangka jika limbah industri minyak kelapa sawit ini bisa menjadi pengganti batubara, bahkan dengan kualitas yang cukup mumpuni.

Pemeriksaan fisik cangkang sawit melibatkan jumlah yang tidak sedikit, bahkan bisa mencapai puluhan ribu ton. Hal yang pertama dilakukan terhadap cangkang sawit pertama kali yakni melakukan proses fumigasi atau metode pengendalian hama dengan gas fumigan.

Cangkang sawit rentan terkena kontaminasi serangga selama pengumpulan di stockpile. Oleh karena itu, dibutuhkan proses karantina untuk memastikan proses pengolahan berjalan dengan baik tanpa adanya kontaminasi dari serangga atau hewan lainnya.

Semakin hari semakin banyak negara yang mulai tertarik dalam pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan, yakni energi biomassa. Tidak heran jika beberapa negara mulai melakukan ekspor cangkang kelapa sawit dari negaranya, khususnya negara-negara tropis.

Sumber Energi Baru

Sebelumnya, sumber energi yang paling sering digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU adalah batubara. Penggunaan batubara secara terus menerus tentu tidak baik untuk lingkungan dan harga batubara pun terbilang mahal.

Solusi keandalan bahan bakar PLTU terbaik saat ini adalah penggunaan sumber energi baru dan terbarukan dari cangkang sawit pengganti batubara. Beberapa PLTU sudah menerapkan kadar pencampuran cangkang sawit berkisar antara 5-10%.

Sejumlah daerah mengalami hambatan ketika musim kemarau karena kondisi jalur pengangkutan sungai yang tidak bisa dilalui kapal sehingga pasokan batubara berkurang. Kondisi ini cukup sering terjadi sehingga mengganggu kinerja PLTU.

Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan produksi perkebunan kelapa sawit yang cukup luas, khususnya di Kalimantan Barat. Semakin luas area perkebunan maka semakin melimpah pasokan cangkang kelapa sawit yang bisa dimanfaatkan.

Besaran Energi yang Dihasilkan Cangkang Sawit Pengganti Batubara

Berdasarkan perhitungan sementara, diperkirakan potensi energi dari cangkang sawit bisa mencapai 83,33juta kWh per tahun yang berasal dari cangkang sawit 5% produksi kelapa sawit sekitar 2 juta ton. Angka ini setara dengan 83GWh per tahun dan terbilang cukup besar. Cangkang sawit bisa menjadi energi jangka panjang dengan potensi yang sangat menjanjikan.

Metode Pengganti Batubara

Ketahanan pasokan listrik dari kelapa sawit bisa memanfaatkan metode co-firing untuk meminimalkan kendala transportasi bahan bakar selama batubara belum datang. Sebagai solusi potensi sumber energi yang lebih baik, cangkang sawit bisa digunakan.

Penggunaan metode co-firing juga dapat menghemat pengadaan dari bahan bakar tersebut dengan biaya yang lebih sedikit. Penurunan biaya penyediaan bahan bakar bisa mencapai 265 atau setara dengan Rp 265 per kg.

Jika Anda tertarik untuk mendapatkan informasi lebih mengenai cangkang kelapa sawit, Anda bisa mengunjungi situs kami atau klik di sini untuk mendapatkan cangkang sawit berkualitas dengan harga terjangkau.